Bismillah Ar Rahman Ar Rahim
Tulisan ini ku buat atas Kekaguman ku kepada sosok wanita-wanita tangguh seperti ibu
Hidup dalam lingkungan serba tak berkecukupan bukanlah pekara yang mudah buat ku, semasa kecil yg ku kenal hanyalah seorang ibu & kedua adik ku. Sebagai anak laki-laki tertua aku punya tanggungjawab untuk membantu ibu menjaga juga merawat adik-adik. Sehabis mengerjakan tugas-tugas sekolah biasanya hari-hari ku akan ku habiskan dengan membantu beliau.
Banyak hal yg bisa ku peroleh dari ibu tak kala aku sedang membantunya, bisanya ibu akan bercerita sambil sesekali menyelipkan nasehat dalam setiap ceritanya. Ibu bukanlah orang terpelajar namun dia bisa membuat ku terpaku mendengarkan setiap detil ceritanya. Wah! kalau sudah begini aku sering lupa kalau aku masih mengerjakan sesuatu.
Lebih dari separuh masa umur ku lebih banyak bersama ibu. Entah mengapa aku lebih memilih tinggal dirumah bersama beliau ketimbang bermain dengan anak-anak seumuran ku. Padahal tak jauh dari rumah terdapat sebuah lapangan dimana bisanya anak-anak seumuran ku bermain setiap menjelang sore hari. Terdengar jelas terkadang sorak-sorai mereka, “mungkin salah satu dari gawang mereka telah berhasil dibobol lawan!” demikian ibu berucap sambil sesekali melihat ke arah ku.
Biasanya aku hanya mengangkat kedua bahu dengan kepala tetap tertunduk memperhatikan jari-jari tangan ibu yang menguning dan kusam dengan bekas luka-luka sayatan pisau saat mengupas bawang. “Sini, biar aku yg kupas!” kata ku mencoba mengalihkan pembicaran ibu, “Ya sudah, biar ibu siapkan dahulu perapiannya sambil berdiri dengan diiringi tawa kecil ibu.
“Aku tahu maksud ibu!”, kata ku menimpali tawanya. Sebagai anak yg begitu dekat dengan beliau aku sangat memahami cara-cara ibu mengajariku bahwa dia ingin aku bergabung dengan anak-anak itu dan bermain seperti layaknya kedua adik-adik ku. Ibu adalah sosok yg santun dalam sikap maupun caranya menyampaikan sesuatu yg menurutnya salah, niat ku baik menurutku karena semua ku lakukan hanya karena ingin berbakti kepada beliau. Bukankah sudah selayaknya beliau bangga punya anak yg mau berbakti kepadanya? pikir ku.
Numun tidak demikian caranya menurut beliau, sering terjadi percakapan panjang kalau kami sudah membicarakan hal ini sampai pada akhirnya beliau hanya mengusap kepala ku dan memandang dalam-dalam wajah ku. Entah apa yg sedang ibu perhatikan buat ku itu sebuah pertanda bahawa aku punya hak untuk berbuat seperti itu sepanjang tidak menjadi beban buat diri ku sendiri.
Satu pelajaran buat ku bahwa perbedaan bukanlah alasan buat kami untuk mengikis nilai-nilai sebuah bersahabatan , buat ibu persahabatan jauh lebih berharga dibandingkan nilai dari ego ke akuanya sebagai orang tua yg sudah seharusnya aku turuti sebagai seorang anak. Ibu adalah orang tua yg ku sayangi sekaligus sahabat yg kuhormati.
Bagian kecil dari cerita ku yg akan tetap ku abadikan sepanjang umurku, ibu….
Oleh RC@ — February 23st, 2008